Resensi Film Perfume: the story of a murderer

Sutradara: Tom Tykwer
Produser: Bern Eichinger
Skenario: Andrew Birkin, Bern Eichinger, Tom Tykwer
Berdasarkan: Perfume oleh Patrick Suskind
Pemeran: Ben whishaw, Alan Rickman, Rachel Hurd-wood, Dustin Huffman, Karoline Herfurth, Simon Chandler
Perusahaan produksi: VIP Medienfunds 4, Neff Productions, Castelo productions
Tanggal rilis: 14 september 2006, Jerman
4 Oktober2006, prancis
24 November 2006, Spanyol
27 Desember 2006, Amerika serikat
Bahasa: inggris


Deskripsi Film
Film Eropa (German) yang berdasarkan novel tahun 1985 yang berjudul ‘Perfume’ karya Patrick Suskind, menceritakan tentang kisah seorang maestro parfum yang mungkin namanya tidak akan pernah kita kenal di zaman sekarang, karena satu dan berbagai hal. Film ini mengambil setting di Paris kuno, sekitar tahun 1800-an. Film berdurasi 147 menit ini disutradarai oleh Tom Tykwer.

Adegan pertama. Gelap. Sesosok wajah seorang pemuda muncul di layar. Wajah dan tubuhnya kotor. Posturnya kerempeng dan pucat. Ada rantai yang membelenggu tangan dan kakinya. Ia berada di dalam penjara. Terdengar kegaduhan di depannya. Beberapa petugas dengan tergesa-gesa membuka pintu selnya, lalu menyeretnya keluar, menuju ke balkon luar gedung penjara. Penjara itu berdinding dan berlantai batu. Lagi-lagi, gelap menyelimuti. Dengan tertatih-tatih pemuda itu mengikuti seretan petugas. Sampai di balkon, ia disambut ribuan orang yang menyerukan kemarahan mereka kepadanya. Ekspresinya seolah mengatakan: memangnya apa yang salah denganku?
Jaksa menuntut petugas untuk segera membacakan vonis bagi pemuda itu. Jean-Baptiste Grenouille, diputuskan akan menjalani eksekusi besok pagi, dengan cambukan tongkat besi yang akan meremukkan seluruh belulangnya. Ngeri kan? Lebih ngeri lagi, orang-orang yang di bawah sana mengangkat senjata apapu yang mereka bawa, garpu rumput, parang, dan sebagainya, bersorak mendengar hukuman bagi Grenouille. Ternyata, sadis berjamaah itu merindingkan bulu roma, asli. Vonis berikutnya adalah, setelah tulang belulangnya remuk, dalam keadaan hidup, ia akan digantung, dan jasadnya akan dibiarkan jadi santapan burung bangkai. Waw.
Sebenarnya, apa yang membuat orang-orang itu sangat marah? Apa yang sudah diperbuat oleh Grenouille? Jawabannya, ada di alur flashback film ini.
Jean Baptise Grenouille di lahirkan di sebuah tempat yang paling kotor dan berbau busuk di salah satu kota paris, yaitu pasar ikan. Ibunya yang sedang mengandungnya itu berjualan ikan disana. Tempat itu sepertinya dingin, kotor, mata air yang hitam, becek, bahkan orang-orang disana pun kotor, bau dan lusuh. Saat sedang berjualan ikan ibunya Jean Baptise ini akan melahirkan, ia langsung masuk ke kolong meja dagangannya yang tertutup kain dan disitulah ia melahirkan Jean Baptise Grenouille. Ini merupakan kelahiran ke 5 ibunya Jean Baptise. Jadi, ia tidak begitu panik dalam menghadapinya. Ia berjuang melahirkan sendirian, dan untungnya lancar. Bayi itu lahir tanpa menangis berlebihan. Dengan cepat ibunya langsung memotong tali pusar bayi itu dengan menggunakan pisau ikan yang kotor dan kemudian menyingkirkannya ke tumpukkan sampah tulang ikan yang bau, kotor, basah, berbau busuk, amis, penuh belatung dan tikus serta dingin, berharap ia akan ikut terbuang ke sungai bersamaan dengan dengan sampah-sampah.
Setelah selesai melahirkan ia pun kembali berdiri dengan susah payah dan tertatih dan melanjutkan berjualan ikan. Di atas tumpukkan sampah, tubuh bayi itu menggigil kedinginan. Hidungnya mengendus aroma yang ada di sekitarnya, dan bersiap berteriak menangis. Pembelinya menanyakan kepada ibu ini apakah ia baik-baik saja. Sebelum ibu ini menjawab terdengar suara tangisan bayi yang sangat keras. Pembeli itu dan beberapa orang yang berada di sekeliling langsung mencari-cari suara tangisan tersebut, dan mereka mendapati seorang bayi yang tergeletak di kolong meja dengan tubuh yang telanjang dan di kelilingi usus serta tulang belulang ikan. Kemudian orang-orang tersebut menuduh ibunya itu akan membunuh bayi itu. (memang iya) akhirnya ibu dari bayi tersebut dibawa ke pengadilan dan berakhir dengan hukum gantung.
Pemerintah akhirnya mengirim Jean Baptise ke sebuah panti asuhan. Namun sang pemilik panti ini rupanya malah membayar bayi tersebut demi mendapatkan anak-anak. Panti tersebut menurut saya tidak layak, tempatnya kumuh, gelap, bau dan anak-anak di dalam panti tersebut sangantlah tidak terurus, sangat memprihatinkan. Ketika Jean Baptise datang ke panti anak-anak di panti menyambut dengan rasa kesal, bahkan beberapa dari anak di panti berniat ingin membunuhnya, karena dia berfikir bayi ini merebut tempat tidurnya, belum lagi mererka terganggu dengan suara tamgisan bayi ini, tentu saja bayi tersebut menangis semakin keras ketika anak-anak di panti itu mendekap bayi tersebut dengan bantal. Sontak ibu panti mendatangi mereka dan memberi hukuman berupa pukulan berkali-kali menggunakan besi.
Saat Jean Baptise Grenouille berumur 5 tahun ia belum bisa bicara dan tak punya teman. Anak-anak panti takut dengannya karena dia memiliki kebiasaan aneh, yaitu mengendus sesuatu. Ia menikmati seluruh aroma yang ia temui. Aroma tanah, buah-buahan, dan bahkan bangkai. Ia hanya memilahnya tanpa tahu bau itu enak atau tidak. Otaknya otomatis mengenali dan menyimpan aroma, tapi tak mampu ia utarakan kembali. Ketika mengendus bangkai, ia tahu ada aroma belatung yang sedang menggerogoti di dalam tubuh bangkai tersebut.
Saat usianya tiga belas tahun, saat mulai ia berbicara, ia penasaran karena tidak semua aroma ada namanya. Ia bisa mencium aroma air kolam, mengenali aroma batu basah di dalam air, aroma ikan yang berenang, lumut, kodok, dan semuanya ia hirup dari kejauhan. Pada suatu ketika ibu panti asuhan ini menjualnya ke tempat penyamakan kulit di pinggiran kota. Ia dihargai murah, dan uangnya langsung lenyap karena ibu panti ini di bunuh, bahkan sebelum jauh dari tempat penyamanakan kulit itu.
Tempat penyamakan kulit itu adalah tempat yang berbahaya bagi kesehatan. Banyak bahan kimia yang terlibat di dalamnya. Tapi Jean Baptise bekerja dengan giat. 15-16 jam perhari tanpa mengeluh tanpa berbicara hanya bekerja, majikannya terkesan akan kerajinannya itu. Setelah selesai bekerja Jean Baptise sering memandangi gemerlap kota di seberang sungai, ia ingin sekali mendatangi kota tersebut karena banyak sekali aroma yang belum pernah ia ketemui diluar sana.
Suatu hari harapannya terkabul. Majikannya mengajaknya untuk melakukan pengiriman kulit ke kota. Sepanjang perjalanan ke kota ia selalu ketinggalan langkahnya karena terlalu sibuk dengan aroma baru yang ia hirup. Aroma kota dan orang-orangnya benar-benar berbeda. Wanita-wanita cantik berseliweran dengan kereta kuda. Terdapat pula toko-toko minyak wangi yang sedang menyemprotkan parfume para pelanggannya.
Saat majikannya sedang melakukan transaksi, ia menyelinap pergi untuk menikmati aroma-aroma yang lain dengan lebih leluasa. Di sebuah toko parfum langkahnya terhenti dan ia melihat seorang ahli parfum sedang menunjukkan parfum, karya terbarunya. Amor and psyche, namanya. Parfum ini sedang trending dan dan banyak sekali yang menginginkannya. Grenouille mengintip dari jendela tokoparfum tersebut, menyesap aroma parfum. Tiba-tiba ia menghirup aroma lain, yang mengganggu hidungny, memancing otaknya untuk berkata “aku suka”. Ia mengikuti aroma itu dan langkahnya terhenti pada seorang gadis penjual buah lemon. Gadis tersebut berpakaian lusuh tapi cantik dan wangi.grenouille mengikuti gadis tersebut kemanapun, berharap tidak kehilangan aroma tubuh si gadis tersebut.
Sampai akhirnya gadis tersebut menyadari bahwa sedang ada yang mengikutinya, ia pun berbalik badan dan didapatinya seorang lelaki dibelakangnya. Ia pun menawari buah lemon dagangannya, gadis ini pikir ia akan membeli buah lemon dagangannya. Ketika si gadis tersebut mengulurkan tangannya yang berisi buah lemon, grenouille malah memegang tangan gadis tersebut dan kemudian menciuminya tanpa henti. Sontak gadis sang penjual buah lemon ini kaget dan langsung berlari ketakutan.
Grenouille tetap mengikuti. Tapi, ada saatnya ia kehilangan jejak. Ia mencari ke sana kemari mengandalkan penciumannya. Ia melewati kerumunan orang dan beberapa petugas yang sedang menyalakan kembang api. Ia terkesima sekejap, lalu kembali menelusuri jejak aroma gadis itu. Aromanya menuntunnya ke lorong gedung-gedung. Gadis itu sedang duduk di emperan gedung, hanya beratap kain seadanya, dengan sepasang bangku dan meja. Ia sedang mengupas buah, tanpa tahu ada seseprang yang sedang mendekatinya. Grenouille begitu dekat, tapi gadis itu tak merasakan kehadirannya. Grenouille mengendus-ngendus rambut gadis itu, lehernya, tengkuknya. Akhirnya, gadis itu terkesiap. Antara bingung dan takut, ia menatap sosok di depannya. Ia hendak berteriak saat ada sepasang kekasih berjalan ke arah mereka. Dengan sigap Grenouille membekap mulut gadis itu, menunggu pasangan itu berciuman di depan mereka lalu pergi.
Mereka berada di sudut yang gelap, jadi tidak ada yang menyadari apa yang terjadi. Gadis itu meronta, dan akhirnya kehabisan nafas tanpa Grenoille sadari. Gadis itu mati di tangannya. Grenouille hanya bengong. Sepertinya ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Bukannya mengkhawatirkan dirinya yang telah membunuh, ia malah panic karena aroma gadis itu memudar seiring hilangnya nyawa. Ia merobek pakaian gadis itu, mengendus setiap inci tubuhnya, menikmati aromanya. Sia-sia. Gadis itu tak lagi beraroma. Ia frustasi, dan meninggalkan mayat gadis itu begitu saja.
Grenouille kembali ke tempat penyamakan kulit hanya untuk mendapat cambukan dari majikannya karena telah melarikan diri, dan ia menerima pukulan itu dengan ekspresi biasa saja. Malam itu, ia tidak bisa tidur karena terus kepikiran aroma gadis itu. Ia jadi terobsesi, dan berniat untuk menemukan cara mengawetkan aroma.
Pada suatu ketika ia bertemu dengan seorang ahli parfum, ia mendatangi rumah sang ahli parfum dengan tujuan mengantarkan pesanan kulit domba. Grenouilee memasuki suatu ruangan yang penuh dengan bahan-bahan pembuatan parfum, ia menyombongkan diri kepada sang ahli parfum bahwasanya dia bisa membuat parfum yang paling bagus tapi dengan imbalan ia harus membeli grenouille dari si tukang penyamakan kulit. Grenouille akhirnya menunjukkan kemampuannya dengan membuatkan salah satu parfum yang sedang menjadi bahan perbincangan masyarakat paris. Dan terbukti bahwa grenouille mamapu membuatnya dengan sekali percobaan.
Keesokkan harinya grenouille dibeli oleh sang ahli parfum, bertujuan untuk dipekerjakan sebagai peracik parfum di tokonya, dalam kurun waktu yang tidak lama ia mampu membuat toko parfum itu laku keras. Ia pun terus membuat parfum sebanyak mungkin agar toko parfum tetap ramai pengunjungnya.
Namun ia masih terbayang-bayang oleh sang gadis penjual buah, karena aroma tubuhnya yang sangat harum namun ia tidak dapat memilikinya, ia pun berniatan untuk mencoba eksperimen bagaimana cara mengawetkan aroma tubuh seseorang. Ia kemudian membunuh banyak wanita dimulai dari putri raja, wanita jalang, dan lainnya, totalnya ia membunuh 12 wanita hanya untuk dijadikan bahan eksperimen parfum buatannya. Caranya adalaha ia mengambil cairan atau uap dari wanita-wanita yang telah ia berikan racikan dan kemudian ia rebus dalam beberapa waktu.
Setelah selesai misisnya dalam mengumpulkan 12 botol parfum dari 12 wanita yang berbeda-beda kemudian ia satukan semuanya, menjadi satu botol. Namun perbuatannya ini cukup meresahkan warga sekitar dikarenakan pembunuhan yang sadis, warga sekitar pun akhirnya menangkap jean baptise grounille dan akan menghukumnya secara siksa.
Namun ketika waktu penghukuman tiba ia menaburkan semua parfum yang telah ia racik, warga yang akan menghakimi atau menghukumnya sontak menjadi penuh cinta karena mencium aroma parfum yang ia tebarkan, warga menjadi kagum akan wangi dari parfum tersebut, seperti terhipnotis oleh wangi parfum buatan jean baptise grenouille. Akhirnya ia pun berhasil melarikan diri dan bebas dari hukuman.

Kelebihan : suasana atau latar dalam film ini benear-benar total, sangat-sangat menggambarkan kehidupan negara eropa pada zaman dahulu kala, dan kelebihan seseorang dalam indera penciumannya yang mampu membuatkan parfume terbaik sepanjang masa di kota tersebut.


Kekurangan : Bagian pertama tidak begitu indah ditonton, karena ya itu, gelap, kumuh, kotor  dan menjijikan. Saya mengkategorikan karakter Jean-Baptiste Grenouille adalah orang lugu yang sakit jiwa. Karena dibesarkan di  tempat yang tidak layak, ia tidak diajari sopan santun. Tidak dianjurkan ditonton anak-anak. Bukan adegan dewasa, banyak ketelanjangan yang diekspose dalam rangkaian pembunuhan. Juga, banyak kekerasan yang tidak patut ditonton anak-anak. Apalagi, ceritanya terlalu gelap untuk dicerna. Saat adegan  mengendus di bagian terakhir dengan gadis penjual buah itu, adegannya bisa dibilang erotis, tapi juga manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s